Kamis, 05 September 2013

Legenda Lau Kawar


Het bergmeer van de Sinaboen, Laut Kawar, Karolanden, Sumatra`s Oostkust
Date : 1920-1925
Author niet bekend / unknown (Fotograaf/photographer)
Tropenmuseum of the Royal Tropical Institute (KIT)



Het meer Lau Kawar aan de voet van de vulkaan Sinabung
Date : 1910-1925
Source: Tropenmuseum


Het meer Laut Kawar in de Karolanden, Sumatra`s Oostkust
Date : 1920-1925

Pada zaman dahulu kala. Tersebutlah sebuah kampung yang subur dan permai, desa Kawar namanya. Di desa itu terdapat sebuah mata air yang dimanfaatkan penduduk sebagai sumber air minum. Penduduknya hidup dari bertani. Dan jika mereka habis panen, biasanya akan digelar Gondang Guro-Guro Aron, musik khas masyarakat Karo. Dalam acara itu penduduk akan bersuka cita, berdendang dan manortor. Remaja lelaki dan perempuan akan manortor berpasang-pasangan. Begitulah cara penduduk Kawar mengadakan selamatan untuk panen yang mereka nikmati.
Pada suatu waktu, Desa Kawar mengalami panen raya. Ini tak pernah terjadi sebelumnya. Hasil panen meningkat dua kali lipat. Lumbung-lumbung penduduk penuh semua dengan padi. Bahkan banyak warga harus membuat lumbung-lumbung baru, supaya dapat menampung hasil panen yang melimpah. Untuk mensyukuri panen raya ini, warga desa Kawar bersepakat untuk mengadakan pesta “Mejuah-juah” satu hari penuh, diisi dengan upacara adat dan makan besar secara bersama.
Hari pesta itu pun tiba. Desa Kawar tampak semarak. Pagi-pagi, warga telah datang ke tempat pesta digelar. Di sebuah lapangan terbuka, di situlah mereka berkumpul. Mereka memakai pakaian aneka warna nan indah. Sebagian kaum perempuan tampak sibuk memasak. Memasak berbagai macam masakan untuk disantap bersama dalam upacara tersebut. Di sebuah rumah di dekat sebuah mata air, tinggallah seorang nenek tua renta. Dia menderita sakit, lumpuh. Ia baru saja melepas kepergian anak, menantu dan cucunya untuk hadir dalam upacara itu. Ia terbaring dalam kesendiriannya. Rasa sepi menyergapnya.
Beberapa saat berlalu. Kemudian, sayup-sayup ia mulai mendengar suara Gondang Guro-guro Aron telah ditabuh. Angin juga membawa suara derai tawa gembira ke telinganya. Ia menebarkan pandangannya ke luar melalui jendela kamar. Ia tersenyum tiap kali mendengar keriuhan pesta itu. Dan teringatlah ia ketika dahulu masih remaja. Lelaki dan perempuan manortor berpasangan-pasangan dan ia ada di antara mereka. Banyak pemuda berlomba ingin berlama-lama manortor dengannya. Maklum, dahulu ia tidak hanya pandai manortor. Ia juga terkenal sebagai kembang desa Kawar. Alangkah bahagianya saat-saat seperti itu. Beberapa saat berlalu. Suara keriuhan pesta makin terdengar jelas.
“Ya, Tuhan, betapa aku ingin berada di pesta itu. Aku ingin manortor sepuas hatiku. Tapi, usia tua dan kelumpuhan ini membuatku tak berdaya, ” jeritnya dalam hati. Beberapa saat kemudian airmatanya pun turun berderai. Airmata kerinduan, kesepian dan penyesalan akan nasib. Kadang ia merasa seperti orang tak berguna.
Tiba saatnya makan siang. Musik Gondang dihentikan sementara. Semua warga desa Kawar berkumpul untuk menyantap hidangan makan siang yang telah tersedia. Dengan lahap mereka menyantapnya. Panggang babi dan gulai sapi tersaji bersama nasi yang masih mengepul. Semua bergembira. Sesekali terdengar tawa riuh mereka karena ada saja yang membuat lelucon. Kegembiraan itu menyebabkan mereka lupa pada sang nenek yang terbaring di rumahnya dalam keadaan kelaparan. Anak, menantu dan cucunya juga lupa padanya. Waktu terus berlalu. Sejak tadi si nenek mengharapkan kiriman nasi dan lauknya, yang akan dibawa oleh cucunya, si Tongat. Tapi, tunggu punya tunggu, tak seorang pun yang datang.
Sakit perutnya makin melilit karena didera kelaparan yang sangat. Ia tak kuat. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada padanya, ia mencoba turun dari ranjangnya. Tapi, ia kehilangan keseimbangan. Ia terjatuh. Ia tersungkur ke lantai tanah, karena tak kuat menahan beban tubuhnya sendiri. Ia mencoba merangkak. Perlahan dan tertatih ia merangkak menuju ke dapur untuk melihat kalau-kalau ada yang bisa ia makan. Tapi, tak ada apa-apa. Rupanya, anak dan menantunya hari itu sengaja tidak memasak. Pikir mereka, di tempat pesta akan tersedia banyak makanan, sehingga nanti mereka tinggal mengambilnya dan mengirimkan makanan itu melalui cucunya si Tongat.
Beberapa saat kemudian. Tubuh si nenek tampak gemetar menahan kelaparan. Di dapur ia tak mendapatkan apa-apa. Ia sangat kecewa. Dengan beringsut dan tertatih-tatih ia kembali ke pembaringannya. Nafasnya tersenggal menahan rasa kecewa dan kemarahan. Ia merasa seperti disia-siakan. Kemudian airmatanya berderai meratapi nasibnya penderitaannya.
“Oh Tuhan, aku sudah tak kuat menahan rasa lapar ini,” tangisnya sembilu. ” Mereka sungguh tega membiarkan aku menderita seperti ini, ” ujanya seperti berbisik mengungkapkan rasa kecewanya.
Sementara itu, pesta makan sore dalam upacara itu baru saja usai. Sang anak tiba-tiba teringat pada ibunya di rumah. Ia segera menghampiri istrinya. “Istriku, apakah kamu tadi sudah mengantar makanan untuk ibu?” tanyanya lekas.
“Belum, suamiku, ” jawab sang istri.
“Ibu sudah pasti kelaparan. Segeralah kau bungkus makanannya, lalu suruhlah si Tongat, anak kita, untuk menghantarkannya ke rumah,” perintah sang suami.
“Baiklah,” jawab sang istri.
Wanita itu pun bersegera membungkus makanan, lalu memanggil anaknya. ” Tongat, antarkan makanan ini kepada nenekmu di rumah,” perintahnya kepada sang anak.
“Baik, Bu,” jawab Tongat sambil menerima bungkusan makanan. Ia pun berlari membawa makanan itu pulang. Beberapa saat berlalu. Sesampainya di rumah, Tongat segera menyerahkan bungkusan itu kepada neneknya.
“Ini makanannya, Nek. Tapi, nenek makanlah sendiri karena Tongat harus kembali ke tempat upacara,” ujarnya bergegas kembali.
Dengan sisa tenaga yang ada padanya, sang nenek membuka bungkusan makanan tersebut. Ia telah membayangkan akan menikmati makanan yang lezat. Namun, ketika bungkusan tersebut dia buka, betapa dia kecewa, karena mendapati isinya hanyalah sisa-sisa makanan. Beberapa tulang sapi dan kambing yang hampir sudah dagingnya, dan sedikit sisa nasi. Itulah yang dia dapatkan.
Ia seperti tak percaya apa yang dia lihat. “Ya, Tuhan, apa mereka sudah menganggapku seperti binatang? Mereka hanya memberiku sisa-sisa makanan dan tulang-tulang. Mereka sekarang telah terang-terangan menghinaku. Sungguh, tak dapat kumaafkan penghinaan mereka,” tangis si nenek meledak dalam kemarahan yang sangat.
Sebetulnya, bungkusan tersebut berisi lauk daging yang masih utuh, termasuk di dalamnya babi panggang satu porsi dan nasi yang cukup untuk si nenek. Tetapi, di tengah jalan, si Tongat telah memakan sebagian isi bungkusan itu, sehingga yang tersisa hanyalah tulang-tulang.
Tiada si nenek mengetahui kejadian yang sebenarnya. Ia mengira anak dan menantunya tega melakukan hal itu padanya. Dengan perlakuan seperti itu, hatinya terasa hancur. Air matanya terus-menerus mengalir menyesali keadaan yang telah terjadi. Maka ia pun kemudian berdoa kepada penguasa alam untuk mengutuk anak dan menantunya itu.
“Mereka telah berbuat durhaka kepadaku. Sekarang aku menyumpahi mereka,” ujarnya memohon kepada penguasa alam semesta.
Beberepa saat berlalu. Tiba-tiba langit tampak mendung. Guntur dan kilat bertalu-talu memecah langit. Bersamaan turunnya hujan lebat, desa Kawar digoncang oleh gempa bumi.
Seluruh penduduk yang tadinya sangat bersuka cita, seketika menjadi panik. Wajah-wajah ketakutan tampak di mana-mana. Jerit-tangis terdengar di mana-mana. Namun, mereka tak bisa menghindar dari keganasan alam yang dahsyat itu. Dalam sekejap, desa Kawar yang subur dan makmur tenggelam oleh hujan deras yang tiada henti selama berhari-hari. Beberapa hari kemudian, desa itu telah beruba menjadi sebuah kawah besar yang dipenuhi genangan air.

 Demikianlah oleh masyarakat Karo ia diberi nama Lau Kawar. Danau yang terletak sekitar 80 km dari Medan.

Putri hijau




Abad 15 dan 16 adalah periode paling berdarah di zona dataran rendah Aceh, Sumatra Timur, dan semenanjung Malaysia. Empat kerajaan saling bantai, berkonspirasi, dan saling menaklukkan untuk memperebutkan kekuasaan pada zona perdagangan internasional yang kini dikenal dengan Selat Malaka. Di tengah kecamuk perebutan kue ekonomi itu, pada tepian sungai Deli--tepatnya sekitar 9 km dari Labuhan Deli--lahirlah sebuah legenda klasik bernama Puteri Hijau.
Legenda Sang Puteri yang selalu digambarkan dengan segala kosa kata kecantikan, bertahan hingga kini dalam dua versi. Versi pertama berasal dari catatan sejarah yang mirip cerita lisan yang berkembang di masyarakat Melayu Deli. Versi kedua adalah hikayat dari masyarakat Karo. Keduanya bertentangan dan kelihatan sekali saling berlomba menonjolkan identitas dan ego suku masing-masing.
Dari versi lisan Melayu, konon pernah lahir seorang puteri yang sangat cantik jelita di desa Siberaya, dekat hulu sungai Petani (sungai Deli). Kecantikannya memancarkan warna kehijauan yang berkilau dan menjadi kesohor ke berbagai pelosok negeri, mulai dari Aceh, Malaka, hingga bagian utara pulau Jawa. Ia kemudian dinamai Puteri Hijau. Dalam hikayatnya, Sang Puteri memiliki dua saudara kembar yang dipercaya adalah seekor naga bernama Ular Simangombus dan sebuah meriam bernama Meriam Puntung.
Alkisah, Ular Simangombus memiliki selera makan yang luar biasa. Ia digambarkan seakan tidak pernah kenyang. Rakyat Siberaya akhirnya tidak sanggup lagi menyediakan makanan untuk naga ini, sehingga Sang Puteri bersama kedua saudaranya memutuskan pindah ke hilir sungai dan menetap di sebuah perkampungan baru yang sekarang dikenal dengan nama Deli Tua. Di sini, para pengikutnya membangun benteng yang kuat. Dengan demikian, negeri itu cepat makmur.
Kecantikan Sang Puteri yang menyebar seperti kabar burung ke segala penjuru, suatu ketika mendarat di telinga Raja Aceh. Ia lantas kepincut dan mengirim bala tentara untuk meminang Puteri Hijau. Utusan langsung dikirim. Pantun bersahut-sahutan. Tapi pinangan ini ditolak dan membuat Raja Aceh betul-betul dilanda murka. Ia merasa diri dan kerajaannya dihina sehingga jatuhlah perintah untuk segera menyerang benteng Puteri Hijau. Tapi karena bentengnya sangat kokoh, pasukan Aceh gagal menembusnya.
Menyadari jumlah pasukannya makin menyusut setelah banyak yang terbunuh, panglima-panglima perang Aceh memakai siasat baru. Mereka menyuruh prajuritnya menembakkan ribuan uang emas ke arah prajurit benteng yang bertahan di balik pintu gerbang. Suasana menjadi tidak terkendali karena para penjaga benteng itu berebutan uang emas dan meninggalkan posnya. Ketika mereka tengah sibuk memunguti uang logam, tentara Aceh menerobos masuk dan dengan mudah menguasai benteng.
Pertahanan terakhir yang dimiliki orang dalam adalah salah seorang saudara Puteri Hijau, yaitu Meriam Puntung. Tapi karena ditembakkan terus-menerus, meriam ini menjadi panas, meledak, terlontar, dan terputus dua. Bagian moncongnya tercampak ke kampung Sukanalu. Sedangkan bagian sisanya terlontar ke Labuhan Deli, dan kini ada di halaman Istana Maimoon Medan.
Melihat situasi yang tak menguntungkan, Ular Simangombus, saudara Sang Puteri lainnya, menaikkan Puteri Hijau ke atas punggungnya dan menyelamatkan diri melalui sebuah terusan (Jalan Puteri Hijau), memasuki sungai Deli, dan langsung ke Selat Malaka. Dan hingga sekarang kedua kakak beradik ini dipercaya menghuni sebuah negeri dasar laut di sekitar Pulau Berhala.
Namun sebuah anak legenda menyebutkan bahwa Puteri Hijau sebenarnya sempat tertangkap. Ia ditawan dan dimasukkan dalam sebuah peti kaca yang dimuat ke dalam kapal untuk seterusnya dibawa ke Aceh. Ketika kapal sampai di Ujung Jambo Aye, Putri Hijau memohon diadakan satu upacara untuknya sebelum peti diturunkan dari kapal. Atas permintaannya, ia diberikan berkarung-karung beras dan beribu-ribu telur.

 Tetapi baru saja upacara dimulai, tiba-tiba berhembuslah angin ribut yang maha dahsyat, disusul gelombang yang tinggi dan ganas. Dari perut laut muncul jelmaan saudaranya, Ular Simangombus, yang dengan rahangnya mengambil peti tempat adiknya dikurung. Lalu Puteri Hijau dilarikan ke dalam laut dan mereka bersemayam di perairan pulau Berhala. Menurut cerita ini, saudara-saudara Puteri Hijau adalah manusia-manusia sakti yang masing-masing bisa menjelma menjadi meriam dan naga. Memang, cerita lisan selalu mewariskan banyak versi sesuai selera masing-masing penceritanya.

Guru saman

Cerita Guru Saman kurang begitu tersiar dihalayak umum, khususnya bagi orang Batak baik berada di kota maupun yang di huta. Kurang tau penyebabnya apa, mungkin saja salah satu alasannya cerita yang konon adalah kejadian nyata dari cerita pengakuan orangtua dulu, bahwa semua karakter Guru Saman yang tidak manusiawi. Pembunuh, preman habis dan urak-urakan.

Mendengar nama Guru Saman, masyarakat begitu menyegani sekaligus sangat membencinya. Banyak yang menghindar apabila melihat apalagi mendekati Guru Saman, karena perbuatannya yang semena-mena jagoan inipun tidak segan-segan untuk berbuat kasar bahkan membunuh semua orang yang dia benci.
Guru Saman, dia adalah seorang turunan Lau Balang yang berasal dari Tanah Karo. Semasa remajanya, Guru Saman belajar ilmu silat (moncak Batak), ilmu kebal tikam dan ilmu hitam lainnya yang didapatkannya dari seorang guru kebatinan. Setelah semua ilmu yang diajarkan gurunya dikuasai, mulailah muncul niat Guru Saman untuk merantau meninggalkan tanah Karo menuju Tanah Tapanuli. Dengan ilmu yang dia miliki membuat dirinya sangat berani kemana saja dihendaki. Bahkan dengan ketenarannya pada saat itu banyak orang yang mengandalkan Guru Saman sebagai pembunuh bayaran. Guru Saman tidak akan pernah segan-segan untuk membunuh manusia, siapa saja termasuk yang tidak disukai atau dibenci Guru Saman.
Hampir seluruh daerah Karo di datangi sembari menujukkan kehebatannya kepada orang-orang. Merek dan Saribu Dolok adalah kampung yang dilaluinya dari jalan-jalan hutan. Disinilah Guru Saman menunjukkan  kehebatannya dengan berbuat semena-mena terhadap orang-orang di perkampungan dan pasar-pasar. Makan dan minum di warung-warung warga tanpa membayar sepeserpun. Jika warga tidak menuruti segala permintaannya, mereka akan menjadi korbannya.
Kemudian dari dua perkampungan tersebut Guru Saman melanjutkan perjalannya menuju Sipahutar melewati SiborongBorong dan Garora. Kedua tempat persinggahan inipun tidak luput dari aksi brutalnya. Minum tuak dan makan paganggang sesukanya, dia akan memaksa orang perkampungan untuk menyediakan makanan meski sudah tidak ada lagi. Jika tidak, dengan wajah sangar sembari menancapkan belati dengan mengancam – darah pemilik warung tuakpun menjadi minumannya sebagai pengganti tuak. Bukan hanya itu, harta dan uang warga juga dia rampok untuk dia hamburkan diatas meja judi.
Setelah beberapa waktu pergi ke Sipahutar, daerah Tapanuli Utara, dia lakukan juga pembunuhan kepada seorang pelayan gereja yang bernama Guru Martin, sekaligus dengan Klara, istri yang sedang berbadan dua. Pembunuhan dilakukan atas desakan Hermanus, kepala desa Sipahutar dan bekas murid Guru Saman. Seminggu sebelumnya Hermanus sekeluarga sempat menyerang Guru Martin saat pasca ibadah gereja. Hermanus merasa tersinggung karena uang pembangunan gereja yang digunakan selama ini disinggung tiba-tiba dalam pertemuan itu. Ketersinggungan itu akhirnya dibawa pulang ke rumah dan menjadi motif kemarahan Guru Saman dan rencana pembunuhan tepat pada Sabtu malam.
Pembunuhan sadis tersebut yang dilakukan oleh Guru Saman adalah akhir hidupnya. Setelah warga Sipahutar mengetahui siapa pembunuh Guru Martin, segera warga pelapor kepada polisi di Tarutung. Guru Saman dan muridnya itu ditangkap dan diadili. Namun pengadilan memutuskan Guru Saman harus dihukum gantung. Sebelum dihukum gantung sempat Guru Saman diberi kesempatan menyampaikan pesan terakhirnya.
Inilah pesan Guru Saman kepada warga yang menyaksikan hukuman tersebut: “Sejak kecil semua permintaanku harus dipenuhi orangtuaku. Karena itulah aku selalu meraja lela. Kuharapkan agar orangtua tidak lagi mendidik anaknya seperti aku. Aku siap dihukum gantung dengan segala kesalahanku.”
Hukuman gantung itu berlangsung tanpa diketahui Hermanus serta adik-adiknya karena mereka sudah lebih dulu dimasukkan ke dalam penjara dengan masa hukuman yang berbeda-beda.
 Cerita sejarah Guru Saman sudah pernah diangkat dalam bentu drama dan operaoleh para seniman-seniman Batak. Ada motivasi yang diambil dari cerita tersebut diatas yakni tentang sikap orangtua kepada anak-anak agar tidak memancakan anaknya.

Legenda gara mata(Kiras Bangun)




Peranan Kiras Bangun/ Garamata di Tengah Masyarakat Karo
Kiras Bangun lahir di Batukarang sekitar tahun 1852. penampilannya sederhana, berwibawa dengan gaya dan tutur bahasa yang simpatik. Masyarakat menamakan beliau Garamata yang bermakna “Mata Merah”. Masa mudanya ia sering pergi dari satu kampung ke kampung lain dalam rangkaian kunjungan kekeluargaan untuk terwujudnya ikatan kekerabatan warga Merga Silima serta terpeliharanya norma-norma adat budaya Karo dengan baik.
Pemerintahan yang ada pada masa itu disebut pemerintahan Urung dan Kampung yang berdiri sendiri/otonomi. Jalannya roda pemerintahan dititikberatkan pada norma-norma adat. Tidak jarang pula terjadi sengketa antar Urung dan antar Kampung dengan motif berbagai macam persoalan.
Pihak-pihak yang bertikai, acap kali mengundang Garamata turut memecahkan persoalan. Dengan sikap jujur, berani dan bertanggung jawab Garamata bertindak tegas tetapi arif dan bijaksana, berlandaskan semboyan “Rakut Sitelu” (Kalimbubu, Sembuyak dan Anakberu) yang sudah membudaya dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam bertindak beliau selalu berpegang teguh pada prinsip membenarkan yang benar, tidak berpihak, menyebabkan berbagai sengketa dapat diredakan secara damai yang memuaskan semua pihak. Simpati masyarakat tidak terbatas dikawasan Tanaha Karo saja, melainkan meluas sampai ke daerah tetangga seperti: Tanah Pinem Dairi, Singkil Aceh Selatan, Alas Gayo Aceh Tenggara, Langkat dan Deli Serdang. Hubungan dengan daerah–daerah tersebut terpelihara serasi, terlebih-lebih kegigihan perlawanan rakyat Aceh Selatan dan Aceh Tenggara terhadap penjajah Belanda, dikagumi dan dipantau secara berlanjut.
Latar Belakang Ekspansi Belanda ke Tanah Karo
Pada tahun 1870, Belanda telah menduduki Sumatera Timur yaitu di Langkat dan sekitar Binjai membuka perkebunan tembakau dan karet. Belanda ingin memperluas usaha perkebunan ke Tanah Karo dengan alasan tanah di sekitar Binjai telah habis ditanami.
Tanah Karo telah diketahui Belanda karena kerbau sebagai penarik kereta keperluan perkebunan diperoleh dari Tanah Karo. Disamping itu Binjai pada waktu itu telah menjadi kota yang didiami tuan-tuan kebun Belanda dimana banyak didatangi orang-orang Karo dari Karo Tinggi dan ada diantaranya yang bekerja sebagai pekerja kebun maupun mandor.
Kepopuleran Kiras Bangun/ Garamata telah diketahui oleh Belanda dari penduduk Langkat dan lebih jelas lagi dari Nimbang Bangun yang masih ada ikatan keluarga dengannya. Untuk itu timbul keinginan Belanda menjalin persahabatan dengan Garamata agar dibenarkan memasuki Tanah Karo guna membuka usaha perkebunan. Persetujuan Garamata atas kedatangan Belanda akan diberi imbalan uang, pangkat dan senjata.
Tawaran Belanda demikian mengandung maksud-maksud tersembunyi yang sukar ditebak apalagi Tanah Karo tidaklah cukup luas untuk jadi perkebunan.

Timbulnya Permusuhan dengan Belanda
Utusan Belanda Nimbang Bangun telah bolak-balik dari Binjai ke Tanah Karo namun keinginan Belanda memasuki Tanah Karo tetap ditolak. Keputusan ini diambil setelah dilakukan musyawarah dengan raja-raja Tokoh Karo sebagai berikut:
Keinginan Belanda untuk bersahabat dengan rakyat Karo dapat diterima asal saling menghargai dan menghormati.
Keinginan Belanda untuk memasuki Tanah Karo ditolak. Belanda tidak perlu campur dalam soal pemerintahan di Tanah Karo sebab rakyat Karo selama ini sudah dapat mengatur diri sendiri menurut peradatannya sendiri.
Keinginan Belanda masuk Tanah Karo diwujudkan pada tahun 1902, dengan mengirim Guillaume bersama sejumlah serdadu Belanda sebagai pengawalnya ke Tanah Karo setelah sebelumnya mendapat izin dari salah seorang Kepala Urung lain.
Garamata memberikan beberapa kali peringatan untuk meninggalkan Tanah Karo tetapi Guillaume tidak mau berangkat. Kemudian Garamata bekerja sama dengan beberapa Urung berhasil mengusir Guillaume, setelah 3 bulan bermukim di Kabanjahe.
Sejak pengusiran itu timbullah puncak permusuhan dengan Belanda.
Menggalang Kekuatan
Perkembangan situasi yang sudah menegang disampaikan kepada tokoh-tokoh Aceh Tenggara dan Aceh Selatan sebagai daerah tetangga yang sehaluan. Kemudian Garamata menugaskan beberapa orang untuk mengetahui informasi tentang keinginan Belanda ke Tanah Karo dengan dalih membuka perkebunan, yang merupakan tindakan memaksakan kehendaknya. Dari tokoh-tokoh Aceh Tenggara dan Aceh Selatan ini diperoleh jawaban akan membantu Garamata.
Situasi yang berkembang di Tanah Karo sudah semakin memanas semenjak Guillaume dan sejumlah pengawalnya bersenjata lengkap menduduki Kabanjahe. Garamata dan pengikutnya berupaya untuk menghimpun segenap kekuatan. Pertemuan Urung/Rapat pimpinan merupakan satu-satunya sarana yang paling mudah untuk menyampaikan berbagai macam situasi kepada segenap tokoh Urung/Pasukan Urung serta melaksanakan rencana-rencana.
Melalui pertemuan Urung, Garamata dalam pengarahannya membentuk pasukan Urung dan mengadakan benteng pertahanan di tiap-tiap Urung. Persenjataan pasukan Urung terdiri dari pedang, parang, tombak, dan senapan (dalam jumlah terbatas) yang tersedia di Urung masing-masing. Dengan demikian upaya menghimpun kekuatan, mengobarkan semangat perlawanan gigih dan bersatu sembari kewaspadaan tidak dilengahkan merupakan tekad Garamata dan pengikut-pengikutnya yang setia.
Kenyataan membuktikan bahwa pertemuan Urung di Tiga Jeraya mampu mengerahkan ribuan orang pria dan wanita mengangkat “Sumpah setia melawan Belanda” yang pengucapannya dilakukan secara serempak yang menggemuruh. Pertemuan Urung dilakukan sebanyak 6 kali dan yang terbesar pertemuan Jeraya Surbakti.
Intervensi Belanda di Seberaya Membangkitkan Kemarahan Garamata
Pada tahun 1904 serdadu ekspedisi Belanda datang dari Aceh melalui Gayo Alas dan Dairi menuju Medan. Dalam perjalanannya ke Medan melalui Tanah Karo, pasukan tersebut memasuki kampung Seberaya dimana saat itu terjadi perang saudara. Dalam perjalanan pasukan Belanda mampir di kampung Sukajulu terjadi pertempuran dengan pasukan Simbisa Urung dan pasukan Urung tewas 20 orang.
Perisitiwa berdarah di beberapa tempat merupakan petunjuk bagi tokoh Karo bahwa Belanda telah mulai menginjak-injak kedaulatan rakyat Karo. Kecurigaan Garamata demikian terbukti bahwa maksud kedatangan Belanda ke Tanah Karo adalah menjajah seperti di Langkat. Garamata memastikan bahwa perang pasti terjadi dan karena itu menugaskan beberapa orang ke Alas dan Gayo memperoleh bantuan sebagaimana disepakati setahun lalu.
Batukarang Jatuh
Karena kedudukan musuh di Kabanjahe maka disusun benteng pertahanan terdepan, yang merupakan garis pertahanan sepanjang jalan Surbakti-Lingga Julu (Kabanjahe Selatan) dan sepanjang jalan Kandibata-Kacaribu (Kabanjahe Barat) sedangkan pucuk pimpinan (Pos Komando) Garamata berkedudukan di Beganding (Kabanjahe Tenggara) untuk memudahkan pelaksanaan komando.
Ultimatum Garamata kepada Guillaume yang sudah menduduki Kabanjahe untuk kedua kalinya tidak mendapat tanggapan, bahkan mendatangkan marsuse Belanda lebih banyak lagi. Serdadu pengawalnya sudah diperkuat lagi dari sebelumnya.
Patroli-patroli Belanda menghadapi perlawanan pasukan Urung mengakibatkan terjadinya tembak-menembak. Dimaklumi memang bahwa daya tempur pasukan Simbisa/Urung terbatas pada tembak lari atau sergap “bacok lari”, kemudian berbaur dengan masyarakat setempat. Begitu pula benteng-benteng pertahanan dengan senjata pedang, parang, tombak, bedil locok dan senapang petuem yang terbatas tidak mendukung untuk bertahan lama. Adapun tembak-menembak terjadi tidak seimbang dan pihak Belanda memiliki senjata yang lebih mutakhir sedangkan di pihak Simbisa/Urung mempunyai senjata yang kalah jauh dari perlengkapan lawan.
Satu demi satu benteng pertahanan pasukan Simbisa/Urung dapat dikuasai musuh, seperti benteng pertahanan LIngga Julu, meminta korban jiwa, termasuk pimpinan pasukannya tewas tertembak. Sementara benteng pertahanan Kandibata yang dibantu pasukan dari Aceh Tenggara ditarik ke garis belakang. Benteng Mbesuka dan Tembusuh di Batukarang, (15/9/1904) dikuasai Belanda. Mujur atas dorongan para ibu dengan sorak sorai beralep-alep merupakan dorongan semangat tempur tetap tinggi. Pasukan Urung terpaksa membayar mahal dan tidak kurang dari 30 orang tertembak mati, seorang diantaranya perwira. Seusai pertempuran pasukan Urung menyingkir ke Negeri, 3 km dari Batukarang yang dipisah oleh Lau Biang yang bertebing terjal.
Negeri sebagai tempat menyingkir Garamata dan pasukannya jadi sasaran serangan mendadak oleh pasukan Belanda, seusai Batukarang diduduki, Nd. Releng br Ginting isitri Garamata menderita luka tembak sembari Garamata dan pasukannya menduduki Singgamanik dan sekitarnya.
Liren dan Sekitarnya Jadi Basis Perlawanan
Walaupun pasukan Simbisa/Urung sudah berpencar, keesokan harinya ditetapkan Kuala menjadi daerah tempat berkumpul. Pasukan Belanda terus melakukan pengejaran, maka pasukan Simbisa/Urung berangkat menuju Liren, Kuta Gamber, Kempawa, Pamah dan Lau Petundal sebagai basis pertahanan.
Dijelaskan bahwa daerah ini termasuk Dairi yang berbatasan dengan aceh Selatan, Aceh Tenggara dan Tanah Karo. Medannya bergunung-gunung, lembah yang dalam dan terjal, kurang subur, berpenduduk jarang sehingga cocok menjadi basis gerillya tetapi lemah dalam dukungan logistik.
Sebagai daerah penyingkiran semua rencana diatur dari basis ini baik untuk kontak hubungan dengan daerah tetangga maupun mengganggu patroli-patroli Belanda yang secara rutin melewati Liren dan daerah sekitarnya.
Perang Gerilya
Garamata dalam pengarahannya kepada pasukan Simbisa/Urung membuat pesan dari pedalaman antara lain, teruskan perjuangan melawan Belanda dimana saja semampu yang dimiliki dengan motto: “namo bisa jadi aras, aras bisa jadi namo” (namo=lubuk, aras=arus air yang deras). Artinya sekarang kita kalah, besok kita menang.
Pada kesempatan lain Garamata berangkat ke Singkil dengan tujuan menemui teman seperjuangannya Sultan Daulat tetapi tidak ketemu. Tidak ada keterangan diperoleh selain Aceh Selatan dan Aceh Tenggara sudah dikuasai Belanda sehingga hubungan antara kedua pihak menjadi terputus. Perlu dijelaskan bahwa waktu hendak kembali ditengah jalan ketemu dengan marsuse Belanda, Garamata dapat mengelabuinya dengan menyamar sebagai pengail.
Dalam perjalanan pulang ke Lau Petundal, Garamata singgah di Lau Njuhar, tidak lama kemudian pasukan Belanda datang mengepung. Posisi Garamata dalam bahaya dan diatur bersembunyi dalam satu rumah.
Sementara itu Garamata dipersiapkan menyamar seperti seorang perempuan yang baru melahirkan dengan muka disemburi pergi kepancuran, dengan demikian loloslah Garamata dari serangan Belanda.
Opportinuteits Beginsiel
Pendudukan Belanda atas Batuk arang dengan mengerahkan sebanyak 200 orang marsuse Belanda bersenjata lengkap ternyata belum memulihkan keamanan. Patroli Belanda tetap mendapat perlawanan walau tidak secara frontal.
Betapapun usaha yang diupayakan untuk menangkap tokoh-tokoh Urung terutama Garamata tidak berhasil sehingga semua rencana Belanda memperkuat kedudukannya seperti membuka jalan dari Kabanjahe ke Alas, mengutip blasting, menjalankan roda pemerintahan selalu terganggu/tidak dapat dijalankan. Maka dikeluarkan opportinuteits beginsiel terhadap Kiras Bangun atau Garamata bersama pengikut-pengikutnya.
Mengingat banyaknya rakyat korban akibat tindakan marsuse Belanda yang semakin membabi buta seperti peristiwa di Kuta Rih disamping itu disadari bahwa pasukan tidak dapat bertahan lebih lama mengingat keadaan yang sudah parah, terutama disebabkan hubungan dengan Alas, Gayo, Singkil sudah tertutup, pada saat mana Belanda menawarkan opportinuteits maka Garamata bersama anak buahnya berunding untuk mengambil keputusan. Dengan pertimbangan prikemanusiaan dan untuk menghindari rakyat korban lebih banyak maka penawaran Belanda atas opportinuteits beginsiel diterima dengan berat hati dan bertekad untuk menyusun kekuatan sehingga pada suatu saat dapat bangkit kembali mengusir Belanda.

 Ternyata Belanda tidak mentaati tawaran sendiri karena Garamata tetap dihukum dalam bentuk pengasingan di salah satu tempat di perladangan Riung selama 4 tahun.

SI beru dayang (Asal mula padi, menurut suku karo)

Si Beru Dayang adalah istilah masyarakat Tanah Karo, Sumatera Utara, untuk menyebut nama tanaman padi. Konon, padi atau beras yang kini menjadi makanan pokok masyarakat Tanah Karo merupakan penjelmaan seorang anak laki-laki yang bernama Si Beru Dayang. Bagaimana Si Beru Dayang dapat menjelma menjadi tanaman padi? 
Ikuti kisahnya dalam cerita Si Beru Dayang berikut ini!

Alkisah, di Tanah Karo, Sumatera Utara, Indonesia, berdiri sebuah negeri yang dipimpin oleh seorang raja yang arif dan bijaksana. Saat itu, penduduk negeri itu belum mengenal tanaman padi. Makanan pokok mereka adalah buah kayu yang banyak terdapat di sekitar mereka. Meski hanya menggantungkan hidup pada buah kayu tersebut mereka dapat hidup makmur dan sejahtera.


Suatu ketika, kemarau panjang melanda negeri tersebut sehingga pepohonan yang baru saja mulai berbuah menjadi layu. Malapetaka itu pun menyebabkan seluruh penduduk negeri menderita kelaparan. Tubuh mereka tampak lemah dan kurus karena kekurangan makanan. Di antara penduduk tersebut tampak seorang anak laki-laki yang sudah yatim bernama si Beru Dayang sedang menangis di pangkuan ibunya. Tubuh bocah itu kurus kering dan wajahnya sangat pucat. Bocah itu kemudian merengek-rengek minta makan kepada ibunya.
“Ibu, aku lapar... Aku mau makan Bu,” rengek anak itu.
Tangisan si Beru Dayang benar-benar menyayat hati ibunya. Namun, sang ibu tak dapat menolongnya. Ia hanya bisa meneteskan air mata sambil merangkul anak semata wayangnya. Semakin lama tubuh si Beru Dayang semakin lemas hingga akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya di dalam pangkuan sang ibu. Melihat anaknya tidak bernyawa lagi, sang ibu seketika menangis histeris.
“Anakku, jangan tinggalkan Ibu nak!” tangis sang ibu sambil merangkul erat anaknya.
Para warga yang mengetahui hal itu segera mengubur si Beru Dayang di makam perkampungan. Sejak kepergian anaknya, kesedihan sang ibu semakin bertambah karena hidupnya semakin sepi. Orang-orang yang ia cintai dan sayangi semuanya telah pergi meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.
“Tidak ada lagi gunanya aku hidup di dunia ini. Semua yang aku miliki telah sirna,” kata ibu itu dengan putus asa.
Ibu si Beru Dayang pun memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Dengan tubuh yang lemah, ia berjalan menuju ke sungai yang berada di ujung kampung. Setiba di tepi sungai, ia berdoa kepada Dewata agar segera merenggut nyawanya.
“Ya, Dewata Yang Maha Agung! Hilangkanlah kesedihan dan nestapa hamba untuk selamanya!” pinta ibu itu.
Usai berucap demikian, ibu si Beru Dayang langsung terjun ke dalam sungai yang dalam. Sungguh ajaib, begitu tubuhnya menyentuh air, tiba-tiba ia menjelma menjadi seekor ikan. Tak seorang pun warga yang menyaksikan peristiwa ajaib itu karena mereka semua hanya memperdulikan diri sendiri yaitu bergelut melawan rasa lapar.
Sudah beberapa bulan telah berlalu, namun musim kemarau belum juga berakhir. Semua tumbuh-tumbuhan telah mengering bagaikan habis terbakar. Korban pun semakin banyak yang berjatuhan. Hampir setiap hari terdengar isak tangis kematian yang memilukan di negeri itu.
Sementara itu, warga yang masih kuat bertahan berupaya mencari makanan untuk sekadar pangganjal perut. Di tengah padang yang kering kerontang tampak dua orang anak kecil sedang mengais-ngais tanah untuk mencari umbi-umbian. Setelah beberapa saat mengais tanah, salah seorang dari mereka menemukan buah berbentuk bulat sebesar buah labu.
“Hai, lihat! Buah apa yang aku temukan ini?” tanya salah seorang dari anak itu.
Anak yang satunya segera mendekati temannya. Ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala setelah mengamati buat itu pertanda tidak tahu karena ia sendiri belum pernah melihat buah seperti itu.
Akhirnya, kedua anak tersebut membawa pulang buah itu untuk ditunjukkan kepada orang tua mereka. Ternyata orang tua mereka juga tidak tahu mengenai buah itu karena baru kali itu melihatnya. Penemuan buah yang asing oleh kedua anak tersebut membuat gempar seluruh penduduk negeri. Sang Raja yang mendapat laporan dari salah seorang warga pun berkenan datang untuk melihatnya. Saat raja dan para penduduk berkumpul melihat buah itu, tiba-tiba terdengar suara dari angkasa.
“Wahai penduduk negeri! Buah yang ada di hadapan kalian adalah penjelmaan seorang anak laki-laki kecil yang bernama Si Beru Dayang. Potong-potonglah buah itu hingga halus dan kemudian tanamlah hingga tumbuh menjadi subur. Jika buah penjelmaan Si Beru Dayang itu kalian pelihara dengan baik, kelak akan berbuah dan menjadi makanan kalian. Anak itu sangat merindukan ibunya. Pertemukanlah ia dengan ibunya yang telah menjelma menjadi ikan di sungai! Niscaya kalian tidak akan kelaparan lagi,” ujar suara ajaib itu.
Tanpa berpikir panjang, sang raja segera memerintahkan rakyatnya untuk melaksanakan semua pesan yang disampaikan oleh suara itu. Para warga pun segera memotong-motong buah itu hingga halus, kemudian mereka tanam dan rawat dengan baik. Bersamaan dengan itu, kemarau pun berakhir. Hujan deras pun mulai turun sehingga potongan-potongan buah itu tumbuh dengan subur menjadi tanaman yang menyerupai rumput.
Dua bulan kemudian, tamanan itu berbunga dan berbuah. Buahnya berbulir atau bergerombol dalam setiap tangkai. Setelah genap tiga bulan, buah tanaman itu pun menguning dan siap untuk dipanen. Sang raja bersama seluruh rakyatnya pun segera memanen buah itu dengan suka ria. Setelah dipanen, buah itu kemudian mereka jemur dan tumbuk untuk memisahkan kulit dengan isinya. Isinya itulah kemudian mereka masak dan cicipi bersama-sama.
“Hmmm... rasanya enak dan gurih,” kata sang raja setelah mencicipi masakan itu.
Sejak itulah, penduduk Tanah Karo membibit dan memelihara tanaman yang kemudian mereka sebut Beru Dayang. Makanan pokok mereka yang semula dari buah kayu pun beralih ke Beru Dayang. Untuk mempertemukan Si Beru Dayang dengan ibunya, masyarakat Tanah Karo menyantap makanan itu bersama dengan ikan yang dipercaya sebagai penjelmaan dari ibu Beru Dayang.
 Ternyata, buah tanaman yang sering mereka sebut Beru Dayang itu adalah padi. Meski demikian, masyarakat Tanah Karo tetap menyebut buah padi itu dengan istilah Beru Dayang. Bahkan, mereka memiliki beberapa nama untuk menyebut Beru Dayang tersebut seperti si Beru Dayang Merengget-engget yaitu ketika tanaman padi masih berumur enam hari, dan si Beru Dayang Meleduk yakni ketika tanaman padi sudah berumur satu bulan.

Batu kemang(Gua umang) dan JH.Neumann




Gua Umang atau Batu Kemang oleh J.H Neumann 
Salah sada dokumen emekap tulisen Pandita JH Neumann tahun 1905, kira kira seratus enem tahun si lewat, judulna “Rumah Umang” (Gua Kemang). I ja kin rumah umang, janah kai kin umang?
Adi nina tua tua kalak Karo, umang emekap sejenis mahluk halus si mirip ras jelma tapi belinna kira kira seperempat belin jelma biasa. Erdalan mungkuk janah tukul tukulna arah lebe, kambal kambalna ngala ku pudi. Umang beluh ngelimun (menghilang), emaka labo teridah adi lakin dua lapis pengenen matanta, pala ate umang kin encidahken bana. Nina kin kunu (konon), nai nai pernah nge anak kuta sekitar Sibolangit babaken umang.
Kenca bene kira kira dua minggu, rempet ia seh i darat kuta. Orang tua, kade kade ras pe anak kuta enggo latih daram daram ise pe la ngidahsa sepulu telu wari dekahna. Emaka nuri nuri me si bene enda ndai maka mbaru denga ia ndahi kerja kerja meriah i sada kuta si sehkal jilena. Erkata gendang, suari berngi, landek landek, man minem, uis mejile, ayam ayam pirak mbentar ras emas megersing, tempa tempa tading ibas astana kerajan si sampur dadih ras tengguli.
Emaka megati nge gel gel i begi anak kuta sora rende ras gendang meriah dauh dauh nari, tapi adi i dahi kempak asal sora, kai pe labo jumpa. Amin bage gia, i kuta Durin Tani deher Sembahe, baluren Lau Betimus lit me ije guha batu bas awak reben. Nina tua tua sidekah eme rumah umang si enggo tadingkenna. Janah terbernehen i tepi lau Betimus lit ka ije ‘batu pertenunen’ ras pe ‘batu penjemuren’. Ibas berngi tertentu deherken rumah umang e megati ka idah kalak sekin tah patuk pesai juma. Begi sorana, tapi la idah jelmana.
Neuman di Batoe Kemang, 1906

 JH Neumann tiba tahun 1900 dan belajar Bahasa Karo di Jakarta selama satu tahun. Mulai bekerja di Sibolangit dan sekitarnya 1901 dan wafat di Medan 1949. JH Neumann bukanlah sarjana Theologi. Beliauditabalkan sebagai Pendeta setelah teruji kirprahnya sebagai penginjil aktif dan berbuat banyak bagi masyarakat Karo pada zamannya. Dia menerjemahkan Alkitab ke dalam Bahasa Karo dan beberapa buku cerita alkitab lainnya. Beliau juga menulis Kamus Bahasa Karo – Bahasa Belanda yang pertama. Beliau adalah penginjil yang paling lama melayani di daerah Karo dan ikut membidani lahirnya GBKP. Itulah sebabnya GBKP menabalkan namanya di Sekolah Tinggi Managemen Informatika dan Komputer sebagai STMIK Kristen Neumann Indonesia.

Rabu, 04 September 2013

Kebudayaan karo

Aksara karo

Setiap suku sewajarnya memiliki aksara/huruf kuno masing-masing.
Dalam post ini, saya akan menjabarkan tentang aksara karo. Aksara karo telah di pelajari sejak SD, namun  banyak siswa yang melupakannya, atau bahkan tidak tau sama sekali.